Selasa, 27 Februari 2018

FUNGSI DAN PENGERTIAN dari NILAI, SIKAP DAN KEPUASAN KERJA


NILAI, SIKAP DAN KEPUASAN KERJA

NILAI
1. Pengertian Nilai
Menurut Gibson (1985) Nilai adalah kumpulan perasaan senang dan tidak senang, pandangan, keharusan, kecenderungan dalam diri orang, pendapat rasional dan tidak rasional, prasangka dan pola asosiasi yang menentukan pandangan seseorang tentang dunia. Nilai dapat digunakan sebagai suatu cara mengorganisasi sejumlah sikap. Nilai-nilai juga penting untuk memahami perilaku manajer yang efektif. Nilai sangat penting untuk membantu mempelajari perilaku organisasi, karena nilai memberikan dasar untuk memahami sikap dan motivasi serta dapat mempengaruhi persepsi seseorang. Individu saat memasuki sebuah organisasi memiliki gagasan yang dikonsepkan sebelumnya mengenai apa yang seharusnya dan tidak seharusnya dilakukan. tentu saja hal itu dipengaruhi karena adanya nilai – nilai yang dianut individu tersebut.
PENTINGNYA NILAI
Nilai penting untuk mempelajari perilaku keorganisasian karena nilai meletakan dasar untuk memahami sikap dan motivasi serta karena nilai mempengaruhi persepsi kita. Umumnya nilai mempengaruhi sikap dan perilaku.

Arti penting dari suatu niali pribadi nilai bersifat kompleks dan sangat jelas bahwa didalamnya terdapat sebuah sistem niali umum dan yang dinyatakan sebaiknya sebagai hal yang pragmatik, maksudnya sebuah sistem nilai yang diukur berdasarkan ketentuan apakah suatu konsep berhasil atau tidak, apakah ia dapat diterapkan atau tidak dalam operasi-operasi yang berlangsung. Pada saat yang bersamaan terdapat adanya perbedaaan individual para manajer sehubungan dengan juimlah nila-nilai operan yang diyakini mereka dan sifat spesifik dari nilai-nilai tersebut.

Nilai – nilai pribadi penting bukan saja sebagai determinan keputusan-keputusan seseorang , tetapi juga sebagai determinan sasaran-sasaran dan strategi perusahaan. Perbedaan dalam nilai-nilai pribadi merupakan penyebab bagi sebagian besar konflik yang muncul dalam organisasi.           


2. Ciri – Ciri Nilai
Ada tiga ciri – ciri nilai, yakni :
1.Nilai itu suatu realitas abstrak dan ada dalam kehidupan manusia. Nilai yang bersifat abstrak tidak dapat diindra. Hal yang dapat diamati hanyalah objek yang bernilai itu. Misalnya, orang yang memiliki kejujuran. Kejujuran adalah nilai,tetapi kita tidak bisa mengindra kejujuran itu. Yang dapat kita indra adalah kegiatan yang dihasilkan dari kejujuran itu.
2.Nilai memiliki sifat normatif, artinya nilai mengandung harapan, cita-cita, dan suatu keharusan sehingga nilai nemiliki sifat ideal (das sollen). Nilai diwujudkan dalam bentuk norma sebagai landasan manusia dalam bertindak. Misalnya, nilai keadilan. Semua orang berharap dan mendapatkan dan berperilaku yang mencerminkan nilai keadilan.
3. Nilai berfungsi sebagai daya dorong/motivator dan manusia adalah pendukung nilai. Manusia bertindak berdasar dan didorong oleh nilai yang diyakininya.Misalnya, nilai ketakwaan. Adanya nilai ini menjadikan semua orang terdorong untuk bisa mencapai derajat ketakwaan. 


Hubungan Nilai Dan Perilaku
  1. Sistem nilai yang dianut seseorang akan berpengaruh terhadap perilaku seseorang karena nilai mempengaruhi sikap dan sikap mempengaruhi perilaku.
  2. Seseorang yang memiliki sistem nilai lebih tinggi cenderung berperilaku lebih terkendali dibandingkan seseorang yang memiliki sistem nilai lebih rendah.
  3. Seseorang yang memiliki sistem nilai berbeda maka akan mempengaruhi pandangan tentang mutu suatu tindakan atau produk.

NILAI –NILAI KERJA DI INDONESIA.
             Nilai – nilai individu diluruskan dengan nilai-Nilai individu diluruskan dengan nilai-nilai organisasional,hasilnya positif.individu-individu yang memilki pemahaman yang akurat pada pekerjaan yang diharuskan dan mengatur nilai-nilai organisasi yang terbaik pada pekerjaan mereka dan memiliki tingkat yang lebih tinggi terhadap kepuasan dan komitmen organisasional.Sebagai tambahan membagi nilai diantara karyawan dan organisasi memimpin pada sikap kerja yang lebih positif.Nilai-nilai individu dan organisasional tidak selalu lurus.Apalagi, dengan organisasi ,individu-individu dapat memilki nilai-nilai yang sangat berbeda.ada Dua faktor utama yang memimpin pada perselisihan nilai ditempat kerja.
Ø  Perbedaan Budaya
Ø  Perbedaan Generasi

   1.      Perbedaan Budaya
              Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya akan budaya.Budaya –budaya tersebut berjajar sepanjang  pulau sumatera sampai ke papua.Masing-masing budaya memiliki keunikan dan ciri-ciri tertentu. Mulai dari suku gayo, batak, mandailing, karo, Minang, Melayu, jawa, dayak, bugis, minahasa, toraja, asmat, dsb. Populasi Masyarakat yang paling banyak dari beberapa budaya tersebut dimiliki oleh Masyarakat jawa.Tidak dapat di pungkiri dengan perbedaan budaya yang dimilki masing-masing individu sering menyebabkan perbedaan dalam budaya organisasi.
              Kebudayaan merupakan identitas suatu bangsa yang membedakan bangsa yang dapat membedakan bangsa tersebut dengan bangsa lainnya.Identitas budaya terdiri atas perangkat konsep dan nilai yang mengatur hubungan antara manusia dan Tuhan,antara sesama manusia serta antara manusia dan alam semesta.Untuk itu upaya untuk membangun karakter bangsa masih membutuhkan kerja keras yang konsisten sehingga mampu mengatasi ketertinggalan, sehingga dapat mewujudkan bangsa yang berkarakter, maju, berdaya saing dan mewujudkan angsa indonesia yang bangga terhadap identitas Nasional yang dimilki, seperti nilai budaya dan bahasa.
              Budaya nusantara yang plural merupakan kenyatan hidup (living realty) yang tidak dapat dihindari.Kebhinnekatunggal ika ini harus dipersandingkan bukan dipertandingkan. Keberagaman ini merupakan manifestasi gagasan dan nilai sehingga saling menguat dan untuk meningkatkan wawasan dalam saling apresiasi.
              Dikalangan Antarpolog ada tiga pola yang dianggap paling penting berkaitan dengan masalah perubahan kebudayaan :

v  Evolusi
              Evolusi merupakan perubahan yang dialami suatu masyarakat yang biasanya berkembang dari tingkat sederhana ke tingkat yang lebih kompleks.Dimana perubahan ini terjadi dalam waktu yang lama dan melalui beberapa tahap-tahapan. Sehingga sewaktu dalam proses perkembangannya unsur-unsur kebudayaan suatu masyarakat itu juga ikut mengalami perubahan yang mana disesuaikan dengan perkembangan yang ada. Evolusi yang umum biasanya menunjukkan pada kemajuan umum dari masyarakat manusia ke dalam bentuk-bentuk yang lebih tinggi, bangkit dari dan melampaui bentuk-bentuk yang lebih terbelakang (T.O.Ihromi, 2006:65).
              Perubahan pada budaya Nusantara sendiri akan merupakan suatu wacana yang luas  dalam perjalannnya,Budaya nusantara baik yang masuk kawasan istana atau diluar istana.Ia bergerak sesuai dengan perkembangan jaman.Dengan adanya kontak budaya,difusi ,assimilasi,akultrasi sebagaimana diktakan sebelumnya nampak bahwaperubahan budaya dimasyrakat akan cukup signifikan.

v  Difusi
              Difusi adalah salah satu bentuk penyebaran antau bergeraknya unsur-unsur kebudayaan dari satu tempat ke tempat lainnya.Dimana penyebaran unsur-unsur kebudayaan biasanya dibawa oleh sekelompok manusia dari suatu kebudayaan yang melakukan migrasi ke suatu tempat. Bentuk Penyebaran kebudayaan itu dapat terjadi dengan berbagai cara:

1)Adanya individu-individu tertentu yang membawa unsur-unsur kebudayaannya ke tempat yang jauh. Misalnya para pelaut dan musafir.Mereka pergi hingga jauh ke suatu tempat dan mereka mendifusikan budaya-budaya mereka, darimana mereka berasal yang mana hal ini biasanya dilakukan para musafir.

2) Penyebaran unsur-unsur kebudayaan yang dilakukan oleh individu-idividu dalam suatu kelompok dengan adanya pertemuan antara individu-individu kelompok yang lain. Disinilah terjadi proses difusi budaya dimana mereka saling mempelajari dan saling memahami antara budaya mereka masing-masing.
Cara lain adalah adanya bentuk hubungan perdagangan, dimana para pedagang masuk ke suatu wilayah dan unsur-usur budaya pedagang tersebut masuk ke dalam kebudayaan penerima tanpa disengaja.


v  Akulturasi
              Akulturasi adalah suatu proses sosial yang timbul dimana suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu yang mereka miliki dihadapkan dengan unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing. Sehingga kebudayaan asing itu lambat laun akan diterima/diresap dan diolah ke dalam kebudayaannya sendiri tanpa menyebabkan hilangnya unsur kebudayaan asli dari kelompok itu sendiri. Proses akulturasi itu memang ada sejak dahulu kala dalam sejarah kebudayaan manusia, tetapi proses akulturasi yang mempunyai sifat yang khusus baru timbul ketika kebudayaan bangsa-bangsa di Eropa Barat mulai menyebar ke semua daerah lain di muka bumi ini. Seperti yang telah kita ketahui bahwa sejak dahulu kala dalam sejarah kebudayaan manusia ada gerak migrasi yaitu gerak perpindahan dari suku-suku bangsa di muka bumi.Migrasi tentu mengakibatkan pertemuan-pertemuan antara kelompok-kelompok manusia dengan kebudayaan yang berbeda-beda dan akibatnya ialah bahwa individu-individu dalam kelompok-kelompok itu dihadapkan dengan unsur-unsur kebudayaan asing.Dengan demikian terjadilah akulturasi budaya di antara kelompok-kelompok itu.


SIKAP
Sikap adalah suatu hal yang mempelajari mengenai seluruh tendensi tindakan, baik yang menguntungkan maupun yang kurang menguntungkan, tujuan manusia, objek, gagasan, atau situasi. Sikap bukanlah perilaku, namun sikap menghadirkan suatu kesiapsiagaan untuk tindakan yang mengarah pada perilaku. Sikap dan nilai saling berhubungan hal iini dapat dilihat dari 3 komponen sikap yaitu: pengertian (cognition), pengaruh ( affect), dan perilaku (behavior).

Komponen Sikap
Dalam organisasi sikap penting karena sikap mempengaruhi perilaku kerja. Sikap disusun oleh komponen teori, emosional dan perilaku. Komponen teori terdiri atas gagasan, persepsi dan kepercayaan seseorang mengenai penolakan sikap. Komponen emosional atau afektif mengacu pada perasaan seseorang yang mengarah pada objek sikap. Hal positif yang dirasakan meliputi kegemaran, rasa hormat, atau pengenalan terhadap jiwa orang lain. Hal negative meliputi rasa tidak suka, rasa takut, atau rasa jijik. Komponen perilaku mengacu pada bagaimana satu kekuatan bereaksi terhadap objek sikap.

Konsep Terdekat Sikap
Konsep terdekat terkait sikap meliputi konsep kepercayaan, konsep opini dan konsep nilai dan kebiasaan.

   1.      Kepercayaan
Secara luas, kepercayaan dapat didefenisikan sebagai komponen kognitif dari sikap. Kepercayaan merupakan modal dalam menjalin hubungan baik dengan orang lain. Setiap orang akan memberikan penilaian yang beragam terhadap orang lain. Penilaian ini akan menentukan kekuatan hubungan sejauh mana orang lain dapat menerima kita sangat bergantung bagaimana kita mampu membangun kredibilitas diri dan terhadap jalinan hubungan.

Membangun hubungan diibaratkan bangunan rumah yang memiliki pilar-pilar yang kokoh. Salah satu pilar itu runtuh akan bepengaruh terhadap kekuatan bangunan itu. Perdamaian akan kokoh, jika ditopang oelh pilar-pilar kepercayaan pemangku kepentingan. Jika kepercayaan itu sulit dibangunjangn berharap perdamaian akan terwujud, konflik akan semakin meningkat. Oleh karena itu, membangun sebuah perdamaian hendaknya diiringi dengan upaya meningkatkan kepercayaan di antara pemangku kepentingan yang terlibat dalam konflik.

   2.      Opini
Opini adalah respon yang diberikan seseorang yang komunikan kepada komunikator yang sebelumnya member stimulus berupa pertanyaan. Secara garis besar opini dapat didefenisikan sebagai apa yang dinyatakan oleh seseorang dalam menjawab suatu pertanyaan. Pada awalnya opini yang terbentuk berasal dari pendapat pribadi yaitu penafsiran individual mengenai berbagai masalah dimana padanya tidak terdapat suatu pandangan yang sama. Opini yang dimiliki seseorang adalah merupakan bagian dari suatu opini kelompok yang terdiri atas mayoritas opini dan minoritas opini.

   3.      Nilai
Nilai melibatkan suka atau ketidaksukaan, cinta, kebencian dan ketakutan bagaimana orang menilai sesuatu dan intensitas penilaiannya apakah kuat, lemah dan netral.

   4.      Kebiasaan
Kebiasaan merupakan adanya ketidakbimabangan, otomatis dan mengulangi poladari respon perilaku. Kebiasaan berbeda dengan sikap dimana sikap bukan merupakan perilaku.


Fungsi Sikap

Sikap memiliki empat fungsi utama, yaitu.
1.      Pemahaman. Nilai  berfungsi untuk membantu seseorang dalam memberikan maksud atau memahami situasi maupun peristiwa baru.
2.      Kebutuhan akan kepuasan. Sikap juga melayani suatu hal yang bermanfaat atau fungsi kebutuhan yang memuaskan. Misalnya saja, manusia cenderung untuk membentuk sikap positif terhadap objek dalam menemukan sikap negatif.
3.      Defensif ego. Sikap juga melayani funsi defensive ego dengan melakukan pengembangan atau pengubahan guna melindungi manusia itu sendiri atau dunianya.
4.      Ungkapan nilai. Manusia memperoleh kepuasaan melalui pernyataan diri mereka dengan sikapnya.

 Sikap dan Konsistensi

Orang-orang mengusahakan konsistenis antara sikap-sikapnya serta anatara sikap dan perilakunya. Ini berarti bahwa individu-individu berusaha untuk menghubungkan sikap-sikap mereka yang terpisah dan menyelaraskan sikap dengan perilaku mereka sehingga mereka kelihatan rasional dan konsisten.  Jika terdapat inkonsistenisasi , kekuatan untuk mengembalikan individu itu ke keadaan seimbang seimbang terus digunakan agar sikap dan perilakunya menjadi konsisten lagi. Hal ini dapat dilakukan dengan mengubah sikap maupun perilaku atau dengan mengembangkan rasionalisasi mengenai penyimpangan tersebut.

Formasi Sikap dan Perubahan

Formasi sikap mengacu pada pengembangan suatu sikap yang mengarah pada objek yang tidak ada sebelumnya. Perubahan sikap mengacu  pada subsitusi sikap baru untuk seseorang yang ditangani sebelumnya. Sikap dibentuk berdasarkan karakter psikologis dan faktor genetic dapat menciptakan suatu kecenderungan yang mengarah pada pengembangan sikap tertentu.

Hal pokok yang paling fundamental  mengenai cara sikap dibentuk sepenuhnya berhubungan langsung dengan pengalaman pribadi atas suatu objek, yaitu pengalaman yang tidak menyenangkan maupun yang menyenangkan dengan objek tersebut, pengalaman yang traumatis, frekuensi atau berulangnya kejadian pada objek-objek tertentu, dan pengalam sikap tertentu yang mengarah pada gambaran hidup baru.

Seringkali, para manajer tertarik untuk mengubah sikap orang-orang guna menimbulkan perilaku yang diinginkan. Pimpinan akan secara terus-menerus memberikan rangsangan agar tercipta kecenderungan sikap karyawan yang dipimpinnya ke arah yang diharapkan. Singkatnya, rangsangan diperliukan untuk mengubah sikap.


Beberapa Teori Sikap

Teori Perubahan Sikap
Teori perubahan sikap dapat membantu memprediksikan pendekatan yang paling efektif. Sikap mungkin dapat berubah sebagai hasil pendekatan dan keadaan. Sikap dapat berubah tanpa dibentuk. Misalnya saja, jika seseorang mendapat informasi baru mengenai suatu objek, perubahan sikap dapat saja dihasilkan. Sebagai contoh seorang karyawan setia yang bertugas di bagian keuangan perusahaan pernah melakukan pengglapan dana beberapa tahun yang lalu. Kejadian tersebut mengubah ia untuk cenderung bekerja di perusahaan, berusaha untuk menjadi eksekutif umum perusahaan, dan bekerja untuk dirinya sendiri.

Teori Penguatan dan Tanggapan Stimulus
Teori penguatan dan tanggapan stimulus dari perubahan sikap terfokus pada bagaimana orang menanggapi rangsangan tertentu.

Teori Pertimbangan Sosial
Teori pertimbangan sosial dari perubahan sikap mengambil pendekatan yang perceptual. Teori pertimbangan sosial ini merupakan hasil perubahan bagaimana orang-orang merasa menjadi suatu objek dan bukannya hasil perubahan dalam mempercayai suatu objek. Teori menjelaskan bahwa manusia dapat menciptakan perubahan dalam sikap individu jika mau memahami struktur yang menyangkut sikap orang lain dan membuat pendekatan setidaknya untuk dapat mengubah ancaman.

Faktor utama yang memengaruhi keberhasilan adalah dengan membujuk dan menengahi dua posisi bertentangan yang masing-masing didukung oleh komnikator.

Konsistensi dan Teori Perselisihan
Beberapa teori perubahan sikap berasumsi bahwa orang-orang mencoba untuk memelihara konsistensi dan kesesuaian anatara sikap dan peilaku mereka. Teori ini menekankan kepada pentingnya kepercayaan dan gagasan masyarakat. Teori ini memandang perubahan sikap sebagai hal yang masuk akal dan merupakan proses yang mencerminkan orang-orang yang dibuat untuk menyadari inkonsistensi tersebut dengan mengubah sikap maupun perilakunya ke arah yang lebih baik.

Teori perselisihan adalah suatu variasi dari teori konsistensi. Teori ini mempunyai kaitan dengan hubungan anatar unsur-unsur teori. Teori ini menggap bahwa perselisihan memotivasi orang-orang untuk mengurangi atau menghapuskan perselisihan, karena perselisihan secara psikologis merupakan hal yang tidak menyengkan karena itu orang-orang akan mencari cara untuk menghindari itu.

Teori Disonasi Kognitif
Leon Festinger pada tahun 1950-an mengemukakan teori ini. Teori ini mengemukakan hubungan antara sikap dengan peilaku. Disonasi dalam hal ini berarti inkonsistensi. Disonansi kognitif mengacu pada setiap inkonsistensi yang dipersepsikan oleh seseorang terhadap dua atau lebih sikapnya, atau terhadap perilaku dengan sikapnya. Disonasi tidak dapat dilepaskan dari lingkungan kerja organisasi.

Jika orang-orang yang menciptakan unsur disonansi itu tidak penting, maka tekanan untuk mengoreksi ketidakseimbangan ini akan rendah. 

Teori Persepsi Diri
Teori ini menganggap bahwa orang-orang mengembangkan sikap berdasarkan bagaimana mereka mengamati dan menginterprestasikan perilaku mereka sendiri. Dengan kata lain, teori ini mengusulkan fakta bahwa sikap tidak menentukan perilaku, tetapi sikap itu dibentuk setelah perilaku terjadi guna menawarkan sikap yang konsisten dengan perilaku. Menurut teori ini, sikap hanya akan dapat berubah setelah perilaku berubah. Pertama, manajer harus merubah perilaku mereka kemudian perubahan sikap akan terjadi.


KEPUASAN KERJA
Kepuasan kerja adalah keadaan emosional karyawan dimana terjadi atau tidak terjadi titik temu antara balas jasa karyawan dengan tingkat nilai balas jasa baik finansial maupun non finansial.Kepuasan kerja adalah tingkat dimana seseorang merasa positif atau negatif tenntang berbagai segi dari pekerjaan, tempat kerja dan hubungan dengan teman kerja.Enam jenis sasaran yaang harus di capai sebelum kepuasan kerja dapat di peroleh adalah uang, wibawa, kedudukan, keamanan, pengakuan, rasa memiliki dan kreatifitas.

Tiffin (1974) mengatakan kepuasan kerja berhubungan erat dengan sikap karyawan terhadap pekerjaannya sendiri, karena semakin tinggi tingkat kepuasan kerja seseorang akan tercermin dari sikap kerja kearah yang positif.hal ini tidak berarti apa yang di lakukan oleh manager pada saat ini arahnya negatif. Bahwa positif dan negatifnya sikap seseorang biasanya di lihat dari besaran gaji atau upah yang di berikan, tetapi ini sebenarnya bukan satu–satunya faktor, ada faktor lain seperti suasana kerja, hubungan atasan dan bawahan ataupun rekan sekerja, pengembangan karir, pkerjaan yang sesuai dengan minatdan kemampuannya, fasilitas yang ada dan di berikan. Sementara itu, Osborn (1982) mendefinisikan kepuasan kerja sebagai berikut: Kepuasan kerja adalah derajat positif atau negatif perasaan seseorang mengenai segi tugas-tugas pekerjaanya, tantangan kerja serta hubungan antar sesama pekerja.

Berdasarkan survei yang dilakukan Herzberg, ia berkesimpulan bahwa pendekatan-pendekatan yang di lakukan oleh para peneliti untuk memecahkanmasalah kepuasan keerja tidaklah lengakap. Sebagian dari penelitian tersebut hanya mencoba mencari-cari faktor-faktor yang mempengaruhi sikap kerja, yaitu fator-faktor apa saja yang menyebabkan sikap puas lebih produktif dari karyawan yang tidak puas?” menurut Herzberg, di perlukan suatu pendekatan yang telah di lakukan tersebut.
Kepuasan kerja dan produktifitas kerja karyawan
Persaingan bisnis antarperusahaan semakin ketat baik di pasar domestic maupun internasional pada era globalisasi di abad ke-21 ini.Untuk memenuhi kepuasan pelanggan pada industri, produktivitas sangat penting bagi perusahaan untuk di kelola dengan baik. Tague mengatakan bahwa kelambatan pertumbuhan produktifitas di sebabkan oleh kegagalan moral organisasi dan merupakan cerminan dari bagaimana cara manager dan para pekerja memandang organisasi mereka. Organisasi-organisasi yang berbagi tanggung jawab secara terbuka dan jujur menuntun industri mereka kedalam kualitas dan produktifitas.Produktifitas kerja merupakan tingkat keunggulan yang di harapkan dan pengendalian atas tingkat keunggulan atas tingkat keunggulan untuk memenuhi keinginan konsumen.
            Produktivitas kerja adalah suatu ukuran dari pada hasil kerja atau kinerja seseorang dengan proses input sebagai masukan dan output sebagai keluarannya yang merupakan indikator dari pada kinerja karyawan dalam menentukan bagaimana usaha untuk mencapai produktivitas yang tinggi dalam organisasi.
Pada penelitian ini yang dimaksud dengan produktivitas kerja adalah performance oppraisal atau penilaian kinerja yang merupakan suatu penggambaran sistematis tentang individu atau kelompok yang berkaitan dengan kelebihan dan kekurangan dalam suatu pkerjaan seagai bentuk evaluasi bagi individu yang berkaitan dengan pelaksanaan organisasinya.Produktivitas di mulai dari kebutuhan pelanggan dan berakhir pada persepsi pelanggan. Hal ini dapat di implementasikan interaksi antara karyawan (pekerja) dan pelanggan yang mencakup (a) ketepatan waktu, berkatian dengan kecepatan memberikan tanggapan terhadap keperluan-keperluan pelanggan, (b) penampilan karyawan, berkaitan dengan kebersihan dan kecocokan dalam berpakaian, (c) kesopanan dan tanggapan terhadap keluhan, berkaitan dengan bantuan yang di berikan dalam menyelesaikan masalah-masalah yang di ajukan pelanggan. Berarti produktivitas yang baik di lihat dari persepsi pelanggan bukan dari persepsi perusahaan. Persepsi pelanggan terhadap produktivitas jasa merupakan penilaian total atas kebutuhan suatu produk yang dapat berupa barang ataupun jasa.


 
Dampak dari Kepuasan  Dan Ketidakpuasan Kerja
Terhadap Produktivitas kerja
 Banyak pendapat yang menyatakan bahwa aktivitas dapat di naikkan dengan menaikkan kepuasaan kerja namun hasil penelitian tidak mendukung penelitian ini karena hubungan antara produktivitas kerja dengan kepuasan kerja sangat Kecil.
Terhadap Kemangkiran Dan Keluarnya Tenaga Kerja
            Ketidak hadiran lebiih bersifat spontan dan kurang mencerminkan ketidak puasaan kerja berbeda dengan berhenti atau keluar  dari pekerjaan ada dua faktor pada perilaku hadir yaitu motivasi untuk hadir dan kemampuan untuk hadir
Terhadap Kesehatan
            Tingkat dari Kepuasaan Kerja dan Kesehatan mungkin saling mengukukuhkan sehingga peningkatan dari yang satu dapat meningkatkan yang lainnya.
Penilaian Tingkat Kepuasaan Kerja
            Pengukuran dan Kepuasaan kerja sangat bervariasi,baik segi analiasa statistiknya maupun pengumpulan datanya.Informasi yang didapat dari kepuasan Kerja bisa melalui tanya jawab maupun dengan pertemuan kelompok kerja.


Tujuan Pengukuran Kepuasan Kerja
            Tujuan Pengukuran Kepuasan Kerja adalah :
·         Mengidentifikasikan kepuasan karyawan secara keseluruhan.
·         Mengetahui Persepsi setiap Karyawan terhadap Organisasi atau Perusahaan
·         Mengetahui atribut-atribut mana yang termasuk dalam kategori kritis yang berpengaruh secara signifikan terhadap kepuasan karyawan.
·         Membandingkannya dengan indeks milik perusahaan atau instansi saingan.
Komitmen Organisasional
            Komitmen Organisasional adalah tingkat sampai sejauh apa seorang karyawan memihak pada suatu organisasi tertentu dan tujuan-tujuannya serta berniat mempertahankan keanggotaannya dalam organisasi tersebut. Berikut tiga komponen utama mengenai komitmen organisasi:
1.Komitmen afektif terjadi apabila karyawan ingin menjadi bagian dari organisasi karena ikatan emosional atau psikologis terhadap organisasi.
2.Komitmen kontiniu  muncul apabila karyawan tetap bertahan pada suatu organisasi karena membutuhkan gaji dan keuntungan-keuntungan lain
3.Komitmen Normatif timbul dari nilai-nilai  diri karyawan .
            Cara Perusahaan meningkatkan Loyalitas Karyawan:
1.Memberikan kompensasi
2.Membuat Kondisi Kerja yang nyaman dan Menyediakan fasilitas Kerja yang baik
3.Memberikan tugas yang menantang dan Menarik
4.Memperaktikkan Manjemen terbuka dan Manejemen partisipatif.
5.Memperhatikan Persoalan yang dianggap penting oleh Karyawan dan Menjaga keadilan perlakuan terhadap karyawan terhadap perusahaan.

Rabu, 21 Februari 2018

Akuntasi Biaya



1. Pengertian dan Tujuan Akuntansi Biaya


Pengertian Akuntansi Biaya

Adalah proses pencatatan, penggolongan, peringkasan dan penyajian biaya pembuatan dan penjualan produk atau jasa, dengan cara-cara tertentu serta penafsiran terhadapnya.

Biaya :

Dalam arti luas adalah pengorbanan sumber ekonomis, yang diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi atau kemungkinan akan terjadi untuk mencapai tujuan tertentu.

Dalam arti sempit biaya merupakan bagian daripada harga pokok yang dikorbankan di dalam usaha untuk memperoleh penghasilan.



Tujuan Akuntansi Biaya

Yakni untuk menyediakan informasi biaya bagi kepentingan manajemen guna membantu mereka di dalam mengelola perusahaan atau bagiannya.


Perusahaan Manufaktur

Pada umumnya Akuntansi biaya yang dibahas dalam mata kuliah ini adalah yang diterapkan dalam perusahaan manufaktur. Alasannya lebih kompleks apabila dibandingkan dg perusahaan lain. Kegiatan pokok perusahaan manufaktur yakni mengolah bahan baku menjadi produk jadi yang siap untuk dijual.

Fungsi pokok dalam perusahaan manufaktur

a.  Fungsi produksi
b.  Fungsi pemasaran
c.  Fungsi administrasi dan umum.

Berdasarkan fungsi di atas, maka dalam perusahaan manufaktur dapat dibagi menjadi : Biaya produksi, biaya pemasaran dan biaya administrasi & umum.

2. Klasifikasi Biaya (Penggolongan Biaya)

Biaya dapat digolongkan menjadi beberapa golongan atas dasar, yakni sebagai berikut :

a.      Obyek Pengeluaran  
b.      Fungsi-Fungsi Pokok Perusahaan.
c.       Hubungan Biaya dengan Sesuatu yang Dibiayai.
d.      Atas Dasar Tingkah Lakunya terhadap Perubahan Volume Kegiatan.
e.      Jangka Waktu

3.  Metode Pengumpulan Biaya Produksi.

Pengumpulan harga pokok produksi dapat ditentukan oleh cara produksi, yakni : a) Produksi atas dasar pesanan dan b) Produksi massa. Perusahaan yang berproduksi berdasar pesanan menggunakan metode harga pokok pesanan (job order cost method) . Sedangkan perusahaan yang berproduksi massa, mengumpulkan harga pokok produksi dengan menggunakan metode harga pokok proses (proses cost method).

4.  Metode Penentuan Harga Pokok Produksi.

Yakni merupakan cara memperhitungkan unsure-unsur biaya ke dalam harga pokok produksi. Ada dua pendekatan, : (1) Full Costing dan (2) Variable Costing.  Full Costing merupakan metode penentuan harga pokok produksi yang memperhitungkan semua unsure biaya produksi ked ala harga pokok produksi baik yang bersifat variabel maupun tetap.
Variable Costing yakni Metode penentuan harga pokok produksi yang hanya memperhitungkan biaya produksi yang berperilaku variabel ke dalam harga pokok produksi.

5.  Perbandingan Laporan Laba Rugi Perusahaan Manufaktur dengan Laporan Laba Rugi Perusaha- an Dagang.



Perusahaan dagang à Perusahaan yang kegiatannya membeli barang dagangan dari perusahaan lain dan melakukan penjualan barang tersebut  kepada konsumen atau perusahaan manufaktur.
Untuk mendapatkan barang dagangan, perusahaan dagang mengeluarkan biaya, yang dalam laporan laba rugi dikelompok kan menjadi 3 golongan yakni :

(1)        Harga pokok penjualan
(2)        Biaya pemasaran
(3)        Biaya administrasi dan umum


Perusahaan Manufaktur  

Yakni Perusahaan yang kegiatannya mengolah bahan baku menjadi produk jadi dan melakukan penjualan produk tersebut kepada konsumen atau perusahaan manufaktur lain.

Kegiatan pengolahan bahan baku, menjadi produk jadi memer- lukan 3 kelompok pengorbanan sumber ekonomi, yakni :

(1)        Pengorbanan bahan baku
(2)        Pengorbanan jasa tenaga kerja,dan
(3)        Pengorbanan jasa fasilitas.

Dalam pemasaran produk jadi, juga memerlukan pengorbanan sumber ekonomi, yakni :

(1)        Biaya produksi  : terdiri biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik.
(2)        Biaya pemasaran
(3)        Biaya administrasi dan umum.




PERBEDAAN AKUNTANSI KEUANGAN DAN
AKUNTANSI MANAJEMEN


Persamaan :

1.       Kedua tipe akuntansi tersebut merupakan sistem pengolah informasi  yang menghasilkan informasi keuangan.
2.       Sebagai penyedia informasi keuangan yang bermanfaat bagi seseorang untuk pengambilan keputusan

Perbedaan:
Perbedaan pokok antara akuntansi keuangan dan akuntansi manajemen terletak pada :

1.Pemakai laporan akuntansi dan tujuan mereka
2.Lingkup informasi
3.Fokus informasi
4.Rentang waktu
5.Kriteria bagi informasi akuntansi
6.Disiplin sumber
7.Isi Laporan
8.Sifat informasi

Gambar berikut ini merupakan penjelasan mengenai perbedaan antara kedua tipe tersebut :










Perbedaan Pokok Akuntansi Keuangan dan
Akuntansi Manajemen

No.
Keterangan
Akuntansi Keuangan
Akuntansi Manajemen
1.
Pemakai Utama
Para manajer puncak dan pi-
Para manajer dari berbagai


hak luar perusahaan.
jenjang organisasi




2.
Lingkup
Perusahaan secara keselu-
Bagian dari perusahaan

Informasi 
ruhan

3.
Fokus
Berorientasi pada masa
Berorientasi pada masa

Informasi
Yang lalu
yang akan datang.
4.
Rentang waktu
Kurang fleksibel. Biasanya
Fleksibel : bisa harian, minggu


Mencakup jangka waktu ku-
an, bulanan, bahkan bisa 10


Artalan, tengah tahun, th-an
tahunan.
5.
Kriteria bagi
Dibatasi oleh prinsip akunt-
Tidak ada batasan, kecuali

Informasi Akun-
Ansi yang lazim
manfaat yang dapat dipero-

Tansi.

leh oleh manaj dari informasi



dibandingkan dg pengorban



an untuk memperoleh informa



si tersebut.
6.
Disiplin Sumber
Ilmu Ekonomi
Ilmu Ekonomi dan Psikologi



Sosial
7.
Isi Laporan
Laporan berupa ringkasan
Laporan bersifat rinci menge-


Mengenai perusahaan seba-
nai bagian dari perusahaan.


Gai keseluruhan.





8.
Sifat Informasi
Ketepatan informasi  merupa-
Unsur taksiran dalam infor-


Kan hal yg penting
Masi adalah besar.