NILAI, SIKAP DAN KEPUASAN KERJA
NILAI
1.
Pengertian Nilai
Menurut Gibson (1985) Nilai adalah kumpulan perasaan
senang dan tidak senang, pandangan, keharusan, kecenderungan dalam diri orang,
pendapat rasional dan tidak rasional, prasangka dan pola asosiasi yang
menentukan pandangan seseorang tentang dunia. Nilai dapat digunakan sebagai
suatu cara mengorganisasi sejumlah sikap. Nilai-nilai juga penting untuk
memahami perilaku manajer yang efektif. Nilai sangat penting untuk membantu
mempelajari perilaku organisasi, karena nilai memberikan dasar untuk memahami
sikap dan motivasi serta dapat mempengaruhi persepsi seseorang. Individu saat
memasuki sebuah organisasi memiliki gagasan yang dikonsepkan sebelumnya
mengenai apa yang seharusnya dan tidak seharusnya dilakukan. tentu saja hal itu
dipengaruhi karena adanya nilai – nilai yang dianut individu tersebut.
PENTINGNYA
NILAI
Nilai penting untuk mempelajari
perilaku keorganisasian karena nilai meletakan dasar untuk memahami sikap dan
motivasi serta karena nilai mempengaruhi persepsi kita. Umumnya nilai
mempengaruhi sikap dan perilaku.
Arti penting dari suatu niali
pribadi nilai bersifat kompleks dan sangat jelas bahwa didalamnya terdapat
sebuah sistem niali umum dan yang dinyatakan sebaiknya sebagai hal yang
pragmatik, maksudnya sebuah sistem nilai yang diukur berdasarkan ketentuan
apakah suatu konsep berhasil atau tidak, apakah ia dapat diterapkan atau tidak
dalam operasi-operasi yang berlangsung. Pada saat yang bersamaan terdapat
adanya perbedaaan individual para manajer sehubungan dengan juimlah nila-nilai
operan yang diyakini mereka dan sifat spesifik dari nilai-nilai tersebut.
Nilai – nilai pribadi
penting bukan saja sebagai determinan keputusan-keputusan seseorang , tetapi
juga sebagai determinan sasaran-sasaran dan strategi perusahaan. Perbedaan
dalam nilai-nilai pribadi merupakan penyebab bagi sebagian besar konflik yang
muncul dalam organisasi.
2. Ciri –
Ciri Nilai
Ada tiga ciri – ciri nilai, yakni :
1.Nilai itu suatu realitas abstrak dan ada dalam
kehidupan manusia. Nilai yang bersifat abstrak tidak dapat diindra. Hal yang
dapat diamati hanyalah objek yang bernilai itu. Misalnya, orang yang memiliki
kejujuran. Kejujuran adalah nilai,tetapi kita tidak bisa mengindra kejujuran
itu. Yang dapat kita indra adalah kegiatan yang dihasilkan dari kejujuran itu.
2.Nilai memiliki sifat normatif, artinya nilai
mengandung harapan, cita-cita, dan suatu keharusan sehingga nilai nemiliki
sifat ideal (das sollen). Nilai diwujudkan dalam bentuk norma sebagai landasan
manusia dalam bertindak. Misalnya, nilai keadilan. Semua orang berharap dan
mendapatkan dan berperilaku yang mencerminkan nilai keadilan.
3. Nilai berfungsi sebagai daya dorong/motivator dan
manusia adalah pendukung nilai. Manusia bertindak berdasar dan didorong oleh
nilai yang diyakininya.Misalnya, nilai ketakwaan. Adanya nilai ini menjadikan
semua orang terdorong untuk bisa mencapai derajat ketakwaan.
Hubungan Nilai Dan Perilaku
Hubungan Nilai Dan Perilaku
- Sistem nilai yang dianut seseorang akan berpengaruh terhadap perilaku seseorang karena nilai mempengaruhi sikap dan sikap mempengaruhi perilaku.
- Seseorang yang memiliki sistem nilai lebih tinggi cenderung berperilaku lebih terkendali dibandingkan seseorang yang memiliki sistem nilai lebih rendah.
- Seseorang yang memiliki sistem nilai berbeda maka akan mempengaruhi pandangan tentang mutu suatu tindakan atau produk.
NILAI –NILAI
KERJA DI INDONESIA.
Nilai
– nilai individu diluruskan dengan nilai-Nilai individu diluruskan dengan
nilai-nilai organisasional,hasilnya positif.individu-individu yang memilki
pemahaman yang akurat pada pekerjaan yang diharuskan dan mengatur nilai-nilai
organisasi yang terbaik pada pekerjaan mereka dan memiliki tingkat yang lebih
tinggi terhadap kepuasan dan komitmen organisasional.Sebagai tambahan membagi
nilai diantara karyawan dan organisasi memimpin pada sikap kerja yang lebih
positif.Nilai-nilai individu dan organisasional tidak selalu lurus.Apalagi,
dengan organisasi ,individu-individu dapat memilki nilai-nilai yang sangat
berbeda.ada Dua faktor utama yang memimpin pada perselisihan nilai ditempat
kerja.
Ø Perbedaan Budaya
Ø Perbedaan Generasi
1.
Perbedaan
Budaya
Indonesia
merupakan salah satu negara yang kaya akan budaya.Budaya –budaya tersebut
berjajar sepanjang pulau sumatera sampai
ke papua.Masing-masing budaya memiliki keunikan dan ciri-ciri tertentu. Mulai dari suku gayo, batak, mandailing, karo, Minang, Melayu, jawa, dayak, bugis, minahasa, toraja, asmat, dsb. Populasi
Masyarakat yang paling banyak dari beberapa budaya tersebut dimiliki oleh
Masyarakat jawa.Tidak dapat di pungkiri dengan perbedaan budaya yang dimilki
masing-masing individu sering menyebabkan perbedaan dalam budaya organisasi.
Kebudayaan
merupakan identitas suatu bangsa yang membedakan bangsa yang dapat membedakan
bangsa tersebut dengan bangsa lainnya.Identitas budaya terdiri atas perangkat
konsep dan nilai yang mengatur hubungan antara manusia dan Tuhan,antara sesama
manusia serta antara manusia dan alam semesta.Untuk itu upaya untuk membangun
karakter bangsa masih membutuhkan kerja keras yang konsisten sehingga mampu
mengatasi ketertinggalan, sehingga dapat mewujudkan bangsa yang
berkarakter, maju, berdaya saing dan mewujudkan angsa indonesia yang bangga
terhadap identitas Nasional yang dimilki, seperti nilai budaya dan bahasa.
Budaya
nusantara yang plural merupakan kenyatan hidup (living realty) yang tidak dapat
dihindari.Kebhinnekatunggal ika ini harus dipersandingkan bukan
dipertandingkan. Keberagaman ini merupakan manifestasi gagasan dan nilai
sehingga saling menguat dan untuk meningkatkan wawasan dalam saling apresiasi.
Dikalangan
Antarpolog ada tiga pola yang dianggap paling penting berkaitan dengan masalah
perubahan kebudayaan :
v Evolusi
Evolusi merupakan perubahan yang dialami
suatu masyarakat yang biasanya berkembang dari tingkat sederhana ke tingkat
yang lebih kompleks.Dimana perubahan ini terjadi dalam waktu yang lama dan
melalui beberapa tahap-tahapan. Sehingga sewaktu dalam proses perkembangannya
unsur-unsur kebudayaan suatu masyarakat itu juga ikut mengalami perubahan yang
mana disesuaikan dengan perkembangan yang ada. Evolusi yang umum biasanya
menunjukkan pada kemajuan umum dari masyarakat manusia ke dalam bentuk-bentuk
yang lebih tinggi, bangkit dari dan melampaui bentuk-bentuk yang lebih
terbelakang (T.O.Ihromi, 2006:65).
Perubahan
pada budaya Nusantara sendiri akan merupakan suatu wacana yang luas dalam perjalannnya,Budaya nusantara baik yang
masuk kawasan istana atau diluar istana.Ia bergerak sesuai dengan perkembangan
jaman.Dengan adanya kontak budaya,difusi ,assimilasi,akultrasi sebagaimana
diktakan sebelumnya nampak bahwaperubahan budaya dimasyrakat akan cukup
signifikan.
v Difusi
Difusi adalah salah satu bentuk
penyebaran antau bergeraknya unsur-unsur kebudayaan dari satu tempat ke tempat
lainnya.Dimana penyebaran unsur-unsur kebudayaan biasanya dibawa oleh
sekelompok manusia dari suatu kebudayaan yang melakukan migrasi ke suatu
tempat. Bentuk Penyebaran kebudayaan itu dapat terjadi dengan berbagai cara:
1)Adanya individu-individu tertentu yang membawa unsur-unsur kebudayaannya ke tempat yang jauh. Misalnya para pelaut dan musafir.Mereka pergi hingga jauh ke suatu tempat dan mereka mendifusikan budaya-budaya mereka, darimana mereka berasal yang mana hal ini biasanya dilakukan para musafir.
1)Adanya individu-individu tertentu yang membawa unsur-unsur kebudayaannya ke tempat yang jauh. Misalnya para pelaut dan musafir.Mereka pergi hingga jauh ke suatu tempat dan mereka mendifusikan budaya-budaya mereka, darimana mereka berasal yang mana hal ini biasanya dilakukan para musafir.
2) Penyebaran unsur-unsur kebudayaan yang dilakukan oleh individu-idividu dalam suatu kelompok dengan adanya pertemuan antara individu-individu kelompok yang lain. Disinilah terjadi proses difusi budaya dimana mereka saling mempelajari dan saling memahami antara budaya mereka masing-masing.
Cara lain adalah adanya bentuk hubungan
perdagangan, dimana para pedagang masuk ke suatu wilayah dan unsur-usur budaya
pedagang tersebut masuk ke dalam kebudayaan penerima tanpa disengaja.
Akulturasi
adalah suatu proses sosial yang timbul dimana suatu kelompok manusia dengan
kebudayaan tertentu yang mereka miliki dihadapkan dengan unsur-unsur dari suatu
kebudayaan asing. Sehingga kebudayaan asing itu lambat laun akan
diterima/diresap dan diolah ke dalam kebudayaannya sendiri tanpa menyebabkan hilangnya unsur kebudayaan asli dari kelompok itu sendiri.
Proses akulturasi itu memang ada sejak dahulu kala dalam sejarah kebudayaan
manusia, tetapi proses akulturasi yang mempunyai sifat yang khusus baru timbul
ketika kebudayaan bangsa-bangsa di Eropa Barat mulai menyebar ke semua daerah
lain di muka bumi ini. Seperti yang telah kita ketahui bahwa sejak dahulu kala
dalam sejarah kebudayaan manusia ada gerak migrasi yaitu gerak perpindahan dari
suku-suku bangsa di muka bumi.Migrasi tentu mengakibatkan pertemuan-pertemuan
antara kelompok-kelompok manusia dengan kebudayaan yang berbeda-beda dan
akibatnya ialah bahwa individu-individu dalam kelompok-kelompok itu dihadapkan
dengan unsur-unsur kebudayaan asing.Dengan demikian terjadilah akulturasi
budaya di antara kelompok-kelompok itu.
SIKAP
Sikap
adalah suatu hal yang mempelajari mengenai seluruh tendensi tindakan, baik yang
menguntungkan maupun yang kurang menguntungkan, tujuan manusia, objek, gagasan,
atau situasi. Sikap bukanlah perilaku, namun sikap menghadirkan suatu
kesiapsiagaan untuk tindakan yang mengarah pada perilaku. Sikap dan nilai
saling berhubungan hal iini dapat dilihat dari 3 komponen sikap yaitu:
pengertian (cognition), pengaruh ( affect), dan perilaku (behavior).
Komponen Sikap
Dalam
organisasi sikap penting karena sikap mempengaruhi perilaku kerja. Sikap
disusun oleh komponen teori, emosional dan perilaku. Komponen teori terdiri
atas gagasan, persepsi dan kepercayaan seseorang mengenai penolakan sikap.
Komponen emosional atau afektif mengacu pada perasaan seseorang yang mengarah
pada objek sikap. Hal positif yang dirasakan meliputi kegemaran, rasa hormat,
atau pengenalan terhadap jiwa orang lain. Hal negative meliputi rasa tidak
suka, rasa takut, atau rasa jijik. Komponen perilaku mengacu pada bagaimana
satu kekuatan bereaksi terhadap objek sikap.
Konsep Terdekat Sikap
Konsep terdekat terkait sikap
meliputi konsep kepercayaan, konsep opini dan konsep nilai dan kebiasaan.
1. Kepercayaan
Secara luas, kepercayaan dapat
didefenisikan sebagai komponen kognitif dari sikap. Kepercayaan merupakan modal
dalam menjalin hubungan baik dengan orang lain. Setiap orang akan memberikan
penilaian yang beragam terhadap orang lain. Penilaian ini akan menentukan
kekuatan hubungan sejauh mana orang lain dapat menerima kita sangat bergantung
bagaimana kita mampu membangun kredibilitas diri dan terhadap jalinan hubungan.
Membangun hubungan diibaratkan
bangunan rumah yang memiliki pilar-pilar yang kokoh. Salah satu pilar itu
runtuh akan bepengaruh terhadap kekuatan bangunan itu. Perdamaian akan kokoh,
jika ditopang oelh pilar-pilar kepercayaan pemangku kepentingan. Jika
kepercayaan itu sulit dibangunjangn berharap perdamaian akan terwujud, konflik
akan semakin meningkat. Oleh karena itu, membangun sebuah perdamaian hendaknya
diiringi dengan upaya meningkatkan kepercayaan di antara pemangku kepentingan
yang terlibat dalam konflik.
2. Opini
Opini adalah respon yang
diberikan seseorang yang komunikan kepada komunikator yang sebelumnya member
stimulus berupa pertanyaan. Secara garis besar opini dapat didefenisikan
sebagai apa yang dinyatakan oleh seseorang dalam menjawab suatu pertanyaan.
Pada awalnya opini yang terbentuk berasal dari pendapat pribadi yaitu
penafsiran individual mengenai berbagai masalah dimana padanya tidak terdapat
suatu pandangan yang sama. Opini yang dimiliki seseorang adalah merupakan
bagian dari suatu opini kelompok yang terdiri atas mayoritas opini dan
minoritas opini.
3. Nilai
Nilai melibatkan suka atau
ketidaksukaan, cinta, kebencian dan ketakutan bagaimana orang menilai sesuatu
dan intensitas penilaiannya apakah kuat, lemah dan netral.
4. Kebiasaan
Kebiasaan merupakan adanya
ketidakbimabangan, otomatis dan mengulangi poladari respon perilaku. Kebiasaan
berbeda dengan sikap dimana sikap bukan merupakan perilaku.
Fungsi Sikap
Sikap memiliki empat fungsi
utama, yaitu.
1.
Pemahaman. Nilai berfungsi untuk membantu seseorang dalam
memberikan maksud atau memahami situasi maupun peristiwa baru.
2.
Kebutuhan akan
kepuasan.
Sikap juga melayani suatu hal yang bermanfaat atau fungsi kebutuhan yang
memuaskan. Misalnya saja, manusia cenderung untuk membentuk sikap positif
terhadap objek dalam menemukan sikap negatif.
3.
Defensif ego. Sikap juga melayani
funsi defensive ego dengan melakukan pengembangan atau pengubahan guna
melindungi manusia itu sendiri atau dunianya.
4.
Ungkapan nilai. Manusia memperoleh
kepuasaan melalui pernyataan diri mereka dengan sikapnya.
Sikap dan Konsistensi
Orang-orang mengusahakan
konsistenis antara sikap-sikapnya serta anatara sikap dan perilakunya. Ini
berarti bahwa individu-individu berusaha untuk menghubungkan sikap-sikap mereka
yang terpisah dan menyelaraskan sikap dengan perilaku mereka sehingga mereka
kelihatan rasional dan konsisten. Jika
terdapat inkonsistenisasi , kekuatan untuk mengembalikan individu itu ke keadaan
seimbang seimbang terus digunakan agar sikap dan perilakunya menjadi konsisten
lagi. Hal ini dapat dilakukan dengan mengubah sikap maupun perilaku atau dengan
mengembangkan rasionalisasi mengenai penyimpangan tersebut.
Formasi Sikap dan
Perubahan
Formasi sikap mengacu pada
pengembangan suatu sikap yang mengarah pada objek yang tidak ada sebelumnya.
Perubahan sikap mengacu pada subsitusi
sikap baru untuk seseorang yang ditangani sebelumnya. Sikap dibentuk
berdasarkan karakter psikologis dan faktor genetic dapat menciptakan suatu
kecenderungan yang mengarah pada pengembangan sikap tertentu.
Hal pokok yang paling
fundamental mengenai cara sikap dibentuk
sepenuhnya berhubungan langsung dengan pengalaman pribadi atas suatu objek,
yaitu pengalaman yang tidak menyenangkan maupun yang menyenangkan dengan objek
tersebut, pengalaman yang traumatis, frekuensi atau berulangnya kejadian pada
objek-objek tertentu, dan pengalam sikap tertentu yang mengarah pada gambaran
hidup baru.
Seringkali, para manajer tertarik
untuk mengubah sikap orang-orang guna menimbulkan perilaku yang diinginkan.
Pimpinan akan secara terus-menerus memberikan rangsangan agar tercipta
kecenderungan sikap karyawan yang dipimpinnya ke arah yang diharapkan.
Singkatnya, rangsangan diperliukan untuk mengubah sikap.
Beberapa Teori Sikap
Teori
Perubahan Sikap
Teori perubahan sikap dapat
membantu memprediksikan pendekatan yang paling efektif. Sikap mungkin dapat
berubah sebagai hasil pendekatan dan keadaan. Sikap dapat berubah tanpa
dibentuk. Misalnya saja, jika seseorang mendapat informasi baru mengenai suatu
objek, perubahan sikap dapat saja dihasilkan. Sebagai contoh seorang karyawan setia
yang bertugas di bagian keuangan perusahaan pernah melakukan pengglapan dana
beberapa tahun yang lalu. Kejadian tersebut mengubah ia untuk cenderung bekerja
di perusahaan, berusaha untuk menjadi eksekutif umum perusahaan, dan bekerja
untuk dirinya sendiri.
Teori
Penguatan dan Tanggapan Stimulus
Teori penguatan dan tanggapan
stimulus dari perubahan sikap terfokus pada bagaimana orang menanggapi
rangsangan tertentu.
Teori
Pertimbangan Sosial
Teori pertimbangan sosial dari
perubahan sikap mengambil pendekatan yang perceptual. Teori pertimbangan sosial
ini merupakan hasil perubahan bagaimana orang-orang merasa menjadi suatu objek
dan bukannya hasil perubahan dalam mempercayai suatu objek. Teori menjelaskan
bahwa manusia dapat menciptakan perubahan dalam sikap individu jika mau
memahami struktur yang menyangkut sikap orang lain dan membuat pendekatan
setidaknya untuk dapat mengubah ancaman.
Faktor utama yang memengaruhi
keberhasilan adalah dengan membujuk dan menengahi dua posisi bertentangan yang
masing-masing didukung oleh komnikator.
Konsistensi
dan Teori Perselisihan
Beberapa teori perubahan sikap
berasumsi bahwa orang-orang mencoba untuk memelihara konsistensi dan kesesuaian
anatara sikap dan peilaku mereka. Teori ini menekankan kepada pentingnya
kepercayaan dan gagasan masyarakat. Teori ini memandang perubahan sikap sebagai
hal yang masuk akal dan merupakan proses yang mencerminkan orang-orang yang
dibuat untuk menyadari inkonsistensi tersebut dengan mengubah sikap maupun
perilakunya ke arah yang lebih baik.
Teori perselisihan adalah suatu
variasi dari teori konsistensi. Teori ini mempunyai kaitan dengan hubungan
anatar unsur-unsur teori. Teori ini menggap bahwa perselisihan memotivasi
orang-orang untuk mengurangi atau menghapuskan perselisihan, karena
perselisihan secara psikologis merupakan hal yang tidak menyengkan karena itu
orang-orang akan mencari cara untuk menghindari itu.
Teori
Disonasi Kognitif
Leon Festinger pada tahun 1950-an
mengemukakan teori ini. Teori ini mengemukakan hubungan antara sikap dengan
peilaku. Disonasi dalam hal ini berarti inkonsistensi. Disonansi kognitif
mengacu pada setiap inkonsistensi yang dipersepsikan oleh seseorang terhadap
dua atau lebih sikapnya, atau terhadap perilaku dengan sikapnya. Disonasi tidak
dapat dilepaskan dari lingkungan kerja organisasi.
Jika orang-orang yang menciptakan
unsur disonansi itu tidak penting, maka tekanan untuk mengoreksi ketidakseimbangan
ini akan rendah.
Teori
Persepsi Diri
Teori ini menganggap bahwa
orang-orang mengembangkan sikap berdasarkan bagaimana mereka mengamati dan
menginterprestasikan perilaku mereka sendiri. Dengan kata lain, teori ini
mengusulkan fakta bahwa sikap tidak menentukan perilaku, tetapi sikap itu
dibentuk setelah perilaku terjadi guna menawarkan sikap yang konsisten dengan
perilaku. Menurut teori ini, sikap hanya akan dapat berubah setelah perilaku
berubah. Pertama, manajer harus merubah perilaku mereka kemudian perubahan
sikap akan terjadi.
KEPUASAN KERJA
Kepuasan
kerja adalah keadaan emosional karyawan dimana terjadi atau tidak terjadi titik
temu antara balas jasa karyawan dengan tingkat nilai balas jasa baik finansial
maupun non finansial.Kepuasan kerja adalah tingkat dimana seseorang merasa
positif atau negatif tenntang berbagai segi dari pekerjaan, tempat kerja dan
hubungan dengan teman kerja.Enam jenis sasaran yaang harus di capai sebelum
kepuasan kerja dapat di peroleh adalah uang, wibawa, kedudukan, keamanan,
pengakuan, rasa memiliki dan kreatifitas.
Tiffin
(1974) mengatakan kepuasan kerja berhubungan erat dengan sikap karyawan
terhadap pekerjaannya sendiri, karena semakin tinggi tingkat kepuasan kerja
seseorang akan tercermin dari sikap kerja kearah yang positif.hal ini tidak
berarti apa yang di lakukan oleh manager pada saat ini arahnya negatif. Bahwa
positif dan negatifnya sikap seseorang biasanya di lihat dari besaran gaji atau
upah yang di berikan, tetapi ini sebenarnya bukan satu–satunya faktor, ada
faktor lain seperti suasana kerja, hubungan atasan dan bawahan ataupun rekan
sekerja, pengembangan karir, pkerjaan yang sesuai dengan minatdan kemampuannya,
fasilitas yang ada dan di berikan. Sementara itu, Osborn (1982) mendefinisikan
kepuasan kerja sebagai berikut: Kepuasan kerja adalah derajat positif atau
negatif perasaan seseorang mengenai segi tugas-tugas pekerjaanya, tantangan
kerja serta hubungan antar sesama pekerja.
Berdasarkan
survei yang dilakukan Herzberg, ia berkesimpulan bahwa pendekatan-pendekatan
yang di lakukan oleh para peneliti untuk memecahkanmasalah kepuasan keerja
tidaklah lengakap. Sebagian dari penelitian tersebut hanya mencoba mencari-cari
faktor-faktor yang mempengaruhi sikap kerja, yaitu fator-faktor apa saja yang
menyebabkan sikap puas lebih produktif dari karyawan yang tidak puas?” menurut
Herzberg, di perlukan suatu pendekatan yang telah di lakukan tersebut.
Kepuasan kerja dan produktifitas kerja karyawan
Persaingan
bisnis antarperusahaan semakin ketat baik di pasar domestic maupun
internasional pada era globalisasi di abad ke-21 ini.Untuk memenuhi kepuasan
pelanggan pada industri, produktivitas sangat penting bagi perusahaan untuk di
kelola dengan baik. Tague mengatakan bahwa kelambatan pertumbuhan produktifitas
di sebabkan oleh kegagalan moral organisasi dan merupakan cerminan dari
bagaimana cara manager dan para pekerja memandang organisasi mereka.
Organisasi-organisasi yang berbagi tanggung jawab secara terbuka dan jujur
menuntun industri mereka kedalam kualitas dan produktifitas.Produktifitas kerja
merupakan tingkat keunggulan yang di harapkan dan pengendalian atas tingkat
keunggulan atas tingkat keunggulan untuk memenuhi keinginan konsumen.
Produktivitas kerja adalah suatu
ukuran dari pada hasil kerja atau kinerja seseorang dengan proses input sebagai
masukan dan output sebagai keluarannya yang merupakan indikator dari pada
kinerja karyawan dalam menentukan bagaimana usaha untuk mencapai produktivitas
yang tinggi dalam organisasi.
Pada
penelitian ini yang dimaksud dengan produktivitas kerja adalah performance oppraisal atau penilaian
kinerja yang merupakan suatu penggambaran sistematis tentang individu atau
kelompok yang berkaitan dengan kelebihan dan kekurangan dalam suatu pkerjaan
seagai bentuk evaluasi bagi individu yang berkaitan dengan pelaksanaan
organisasinya.Produktivitas di mulai dari kebutuhan pelanggan dan berakhir pada
persepsi pelanggan. Hal ini dapat di implementasikan interaksi antara karyawan
(pekerja) dan pelanggan yang mencakup (a) ketepatan waktu, berkatian dengan
kecepatan memberikan tanggapan terhadap keperluan-keperluan pelanggan, (b)
penampilan karyawan, berkaitan dengan kebersihan dan kecocokan dalam
berpakaian, (c) kesopanan dan tanggapan terhadap keluhan, berkaitan dengan
bantuan yang di berikan dalam menyelesaikan masalah-masalah yang di ajukan
pelanggan. Berarti produktivitas yang baik di lihat dari persepsi pelanggan bukan
dari persepsi perusahaan. Persepsi pelanggan terhadap produktivitas jasa
merupakan penilaian total atas kebutuhan suatu produk yang dapat berupa barang
ataupun jasa.
Dampak dari Kepuasan
Dan Ketidakpuasan Kerja
Terhadap
Produktivitas kerja
Banyak pendapat
yang menyatakan bahwa aktivitas dapat di naikkan dengan menaikkan kepuasaan
kerja namun hasil penelitian tidak mendukung penelitian ini karena hubungan
antara produktivitas kerja dengan kepuasan kerja sangat Kecil.
Terhadap
Kemangkiran Dan Keluarnya Tenaga Kerja
Ketidak hadiran lebiih bersifat
spontan dan kurang mencerminkan ketidak puasaan kerja berbeda dengan berhenti
atau keluar dari pekerjaan ada dua
faktor pada perilaku hadir yaitu motivasi untuk hadir dan kemampuan untuk hadir
Terhadap
Kesehatan
Tingkat dari Kepuasaan Kerja dan
Kesehatan mungkin saling mengukukuhkan sehingga peningkatan dari yang satu
dapat meningkatkan yang lainnya.
Penilaian
Tingkat Kepuasaan Kerja
Pengukuran dan Kepuasaan kerja
sangat bervariasi,baik segi analiasa statistiknya maupun pengumpulan
datanya.Informasi yang didapat dari kepuasan Kerja bisa melalui tanya jawab
maupun dengan pertemuan kelompok kerja.
Tujuan Pengukuran Kepuasan Kerja
Tujuan Pengukuran Kepuasan Kerja
adalah :
·
Mengidentifikasikan kepuasan
karyawan secara keseluruhan.
·
Mengetahui Persepsi
setiap Karyawan terhadap Organisasi atau Perusahaan
·
Mengetahui
atribut-atribut mana yang termasuk dalam kategori kritis yang berpengaruh
secara signifikan terhadap kepuasan karyawan.
·
Membandingkannya dengan
indeks milik perusahaan atau instansi saingan.
Komitmen Organisasional
Komitmen Organisasional adalah
tingkat sampai sejauh apa seorang karyawan memihak pada suatu organisasi
tertentu dan tujuan-tujuannya serta berniat mempertahankan keanggotaannya dalam
organisasi tersebut. Berikut tiga komponen utama mengenai komitmen organisasi:
1.Komitmen afektif
terjadi apabila karyawan ingin menjadi bagian dari organisasi karena ikatan
emosional atau psikologis terhadap organisasi.
2.Komitmen kontiniu muncul apabila karyawan tetap
bertahan pada suatu organisasi karena membutuhkan gaji dan
keuntungan-keuntungan lain
3.Komitmen Normatif timbul dari nilai-nilai diri
karyawan .
Cara Perusahaan meningkatkan
Loyalitas Karyawan:
1.Memberikan
kompensasi
2.Membuat
Kondisi Kerja yang nyaman dan Menyediakan fasilitas Kerja yang baik
3.Memberikan
tugas yang menantang dan Menarik
4.Memperaktikkan
Manjemen terbuka dan Manejemen partisipatif.
5.Memperhatikan
Persoalan yang dianggap penting oleh Karyawan dan Menjaga keadilan perlakuan
terhadap karyawan terhadap perusahaan.